UNMGAF Chapter 1 Hadirkan Perspektif Global tentang Masa Depan Pendidikan Pascasarjana di Era AI
Makassar — Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) mengawali UNM Postgraduate Global Academic Forum (UNMGAF) Chapter 1, sebuah forum akademik berwawasan global yang mempertemukan akademisi dari berbagai negara untuk membahas masa depan pendidikan pascasarjana di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Mengangkat tema “Artificial Intelligence and the Future of Postgraduate Education”, forum yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom ini menghadirkan tiga akademisi dari tiga negara, yakni Dr. Souvik Ganguly dari India, Professor Rania Lampou dari Yunani, dan Professor Dr. Risma Niswaty dari Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Program Pascasarjana, Prof. Dr. Ir. A. Muhammad Idkhan, S.T., M.T., IPM.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Tim Taskforce Kerjasama, Publikasi, dan Peningkatan Reputasi Akademik Pascasarjana UNM, yang diketuai oleh Dr. Andi Asrifan. Forum ini dirancang sebagai ruang akademik untuk memperluas jejaring internasional, mempertemukan gagasan dari berbagai perspektif, serta memperkuat posisi Pascasarjana UNM dalam komunitas akademik global.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 546 peserta. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya perhatian akademisi dan komunitas pendidikan terhadap isu kecerdasan artifisial serta dampaknya terhadap pendidikan tinggi dan pendidikan pascasarjana.
AI dan Tantangan Baru Pendidikan Pascasarjana
Forum UNMGAF Chapter 1 tidak menempatkan AI semata-mata sebagai teknologi baru, tetapi sebagai sebuah perubahan besar yang menuntut perguruan tinggi melakukan refleksi terhadap cara belajar, mengajar, melakukan penelitian, membangun pengetahuan, dan mengelola institusi akademik.
Pembicara pertama, Dr. Souvik Ganguly dari MGM Institute of Health Sciences, Navi Mumbai, membahas pendekatan neuro-pedagogy yang menghubungkan fungsi otak dengan desain kurikulum dan proses pembelajaran. Pendekatan ini memadukan perspektif psikologi kognitif, neurosains, dan pendidikan untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih sesuai dengan bagaimana manusia belajar.
Dalam paparannya, Souvik memperkenalkan sejumlah prinsip, antara lain purposive learning, cognitive mutualism, working memory, schema building, experiential learning, spaced repetition, serta emotional cognitive synchronization.
Ia juga memaparkan hasil studi kasus terhadap mahasiswa teknik elektro. Penerapan pendekatan neuro-pedagogis tersebut menunjukkan peningkatan kehadiran mahasiswa di laboratorium dari sekitar 60 persen menjadi hampir 90 persen, sementara kemampuan conceptual transfer meningkat sekitar 25 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan di era teknologi tetap perlu berangkat dari pemahaman terhadap manusia sebagai pembelajar.
Membangun “Intelligent University” yang Tetap Human-Centered
Perspektif global berikutnya disampaikan Professor Rania Lampou dari Greek Ministry of Education & Religious Affairs Yunani. Ia mengangkat gagasan mengenai “intelligent university”, yaitu universitas yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan tata kelola tanpa kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Rania menekankan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi. Universitas juga membutuhkan AI literacy, critical intelligence, ethical intelligence, innovation, dan research impact, di samping penguasaan disiplin ilmu.
Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan human agency dan academic integrity dalam pemanfaatan AI. Menurut perspektif yang disampaikan dalam forum, AI seharusnya berfungsi sebagai instrumen cognitive augmentation—memperkuat kemampuan berpikir manusia—bukan menggantikan manusia dalam proses akademik.
Isu kesetaraan akses juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Pemanfaatan AI jangan sampai menciptakan kesenjangan akademik baru antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi dengan mereka yang tidak memilikinya. Karena itu, institusi pendidikan tinggi perlu memikirkan penyediaan akses yang lebih merata sekaligus mengembangkan sistem asesmen yang tetap menempatkan kemampuan berpikir kritis sebagai fokus utama.
Prof. Risma: AI Harus Memperkuat Potensi Manusia
Sementara itu, Professor Dr. Risma Niswaty membawa perspektif kepemimpinan pendidikan pascasarjana dalam menghadapi era AI.
Dalam paparannya mengenai “Leading Postgraduate Education Wisely and Ethically in the AI Era”, Prof. Risma menekankan bahwa tantangan utama perguruan tinggi bukan sekadar bagaimana menggunakan AI, melainkan bagaimana mentransformasikan praktik akademik secara bijaksana dan etis.
AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal, memperkuat proses penelitian, membantu supervisi akademik, serta meningkatkan berbagai praktik akademik. Namun, penggunaan teknologi tersebut harus tetap berada dalam kerangka tanggung jawab manusia.
Karena itu, budaya akademik dalam penggunaan AI perlu dibangun berdasarkan prinsip transparansi, verifikasi, akuntabilitas, dan etika. Mahasiswa perlu tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemandirian intelektual, sementara dosen dan pembimbing tetap menjalankan tanggung jawab akademiknya.
Pesan penting yang mengemuka dari sesi ini adalah bahwa AI tidak seharusnya menggantikan manusia dalam pendidikan, tetapi digunakan untuk memperkuat potensi manusia dalam belajar, berpikir, meneliti, dan menghasilkan pengetahuan.
Dari Chapter 1 Menuju Forum Akademik Global Rutin
UNMGAF Chapter 1 menjadi langkah awal dari agenda yang lebih panjang. Berdasarkan hasil forum, UNMGAF direncanakan untuk dikembangkan menjadi Global Academic Forum yang diselenggarakan secara rutin pada minggu pertama setiap bulan.
Ke depan, forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga berkembang menjadi platform untuk membangun kolaborasi akademik internasional, pengembangan kapasitas, pertukaran gagasan, serta peningkatan reputasi akademik Pascasarjana UNM.
Sebagai bagian dari tindak lanjut, diperlukan pengembangan kerangka strategis transformasi AI dalam pendidikan pascasarjana yang mencakup visi, kepemimpinan, pengembangan kapasitas, dan evaluasi berkelanjutan. Pada saat yang sama, penguatan kebijakan institusional mengenai penggunaan AI, termasuk aksesibilitas, pengadaan, perlindungan data, dan aspek etika, menjadi agenda penting yang perlu mendapat perhatian.
Bagi Pascasarjana UNM, penyelenggaraan UNMGAF merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan akademik yang transformatif, inklusif, etis, dan berjejaring global. Melalui forum tersebut, Pascasarjana UNM tidak hanya mengikuti perkembangan AI, tetapi berupaya mengambil bagian dalam percakapan global mengenai bagaimana pendidikan pascasarjana harus berubah ketika teknologi semakin cerdas, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan.
